NEWS:

  • Kolaborasi Budaya Safety di Jalan Raya, Jasa Raharja Hadir di Tengah Komunitas Ojol Rawa Buaya, Jakarta
  • Dorong Transportasi Publik yang Berkeselamatan, Jasa Raharja Lakukan Kunjungan Kerja ke Perum DAMRI Station Kemayoran
  • Prof. Abdunnur: Jaga Kebhinekaan dan Dorong Kurikulum Budaya Lokal di Kaltim
  • Mudik Gratis BUMN 2026 Resmi Dibuka, Jasa Raharja siapkan kuota untuk 23.500 Pemudik 
  • Rektor Unmul Prof Abdunnur Nahkodai ICMI Kaltim Periode 2026–2031

SAMARINDA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persekutuan Asli Kalimantan (DPP PUSAKA), Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., Asean.Eng, mendorong agar Kurikulum Budaya Lokal segera masuk dalam sistem pendidikan di Kalimantan Timur. Menurutnya, budaya adalah sarana menjaga kebhinekaan, memperkuat kebangsaan, melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas politik.

Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Budaya bertema “Warisan Budaya Kalimantan Timur: Pelestarian, Tantangan, dan Regenerasi” yang digelar DPP PUSAKA bekerja sama dengan Hotel Mesra Internasional, Sabtu (14/2/2026), di Ruang Mancong, Lantai 2 Hotel Mesra, Samarinda. Seminar menghadirkan narasumber: Awang Irwan Setiawan (Budayawan Kaltim), Hamdani (Budayawan Kaltim), serta Ririn Sari Dewi (Kepala Dinas Pariwisata Kaltim).

Kegiatan ini dihadiri akademisi, peneliti budaya, budayawan, seniman, komunitas seni, tokoh pemuda, mahasiswa, serta perwakilan dinas terkait.

Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang Sumber Daya Alam, Perekonomian, dan Kesejahteraan Rakyat, Drh. Arief Murdiyanto, hadir mewakili Gubernur Kaltim sekaligus membuka acara. Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar budaya ini, yang bertepatan dengan usia ke-21 tahun PUSAKA. “Diharapkan PUSAKA terus membawa kemajuan budaya di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Prof. Abdunnur menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian Milad PUSAKA. Dengan tagline SIP (Save, Intelektual, Profesional), PUSAKA berkomitmen menjaga budaya, memberikan kontribusi pemikiran, dan bekerja secara profesional. “Hari ini kita menjaga budaya Kalimantan Timur, memberikan pemikiran, dan merawatnya. Kalau bukan kita, siapa lagi?” tegasnya.

600 NarasumberIa menambahkan, generasi muda memiliki peran penting dalam mentransformasi budaya dan mengcounter pengaruh budaya luar. “Budaya lokal harus dipikirkan secara sistematis, baik melalui pembelajaran formal maupun informal. Dengan budaya, kita menjaga kebhinekaan, memperkuat kebangsaan, dan menyatukan perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar, Dr. Ibrahim, menekankan bahwa kegiatan ini menjadi pemantik bagi gerakan pelestarian budaya sebagai kearifan lokal di Kaltim. Ia menyoroti fenomena hilangnya seni tradisional seperti Mamanda, Lamut, Madihin, dan Tingkilan yang dulu populer pada era 1970–1980-an, namun kini jarang dikenal generasi muda. “Ironisnya, mereka lebih akrab dengan budaya Korea melalui drama dan musik, dibandingkan seni daerahnya sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti pergeseran nilai kebersamaan akibat dominasi gawai. Permainan tradisional seperti sinaga dan tutup sudah jarang terlihat. “Pelestarian budaya bukan berarti memutar jarum jam ke belakang, tetapi menyadari bahwa di balik warisan budaya terdapat kearifan lokal yang diajarkan orang tua kita,” jelasnya.

Dr. Ibrahim mencontohkan Jepang yang mampu melestarikan teater Kabuki sejak periode Edo (1603) hingga kini. Menurutnya, keberagaman etnis di Kaltim adalah aset bangsa yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi daya tarik pariwisata.

2500 REKTOR UNMUL
Warta Kaltim @2026-Jul

WARTA TERKAIT

WARTA UPDATE

« »