SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Bukit Soeharto menjadi perhatian Unit Penunjang Akademik Sumber Daya Hayati Hutan Tropis Lembap (UPA SDHHTL /Pusrehut Unmul). Pusrehut memperkuat monitoring dan patroli untuk mencegah kebakaran meluas serta melindungi tanaman rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS).
Penguatan pengawasan dilakukan melalui kegiatan monitoring tanaman, pembekalan pencegahan Karhutla, serta pemantauan sejumlah titik bekas kebakaran di kawasan Bukit Soeharto, Sabtu (05/09/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin Kepala UPA SDHHTL/Pusrehut Unmul, Dr. Ir. Ibrahim, MP. Tim juga melibatkan Prof. Dr. Ir. Marlon Ivanhoe Aipassa, M.Agr., Sarifudin, S.Sos., M.Si., dan Donny Dhonanto, SP., M.Sc., serta perwakilan PT Trubaindo Coal Mining (TCM) dan PT Tectona Alas Makmur (TAM)
Dr. Ir. Ibrahim, MP., mengatakan kerja sama dengan pihak swasta telah berjalan sebelumnya. Namun, kondisi di lapangan menjadi momentum untuk memperkuat kembali koordinasi, terutama dalam pencegahan dan penanganan Karhutla.
"Melalui kegiatan hari ini, kami mencoba memperkuat kembali kerja sama yang sebenarnya sudah berjalan. Tujuannya adalah membangun koordinasi yang lebih baik dalam upaya mencegah terjadinya Karhutla dan, apabila kebakaran terjadi, memastikan kita mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk melakukan penanganannya," ucap Ibrahim.
Menurutnya, keterbatasan personel menjadi salah satu alasan pentingnya dukungan dari berbagai pihak. TCM dan TAM juga memiliki keterkaitan dengan kegiatan rehabilitasi DAS di kawasan tersebut.
Pengawasan diperlukan untuk melindungi tanaman rehabilitasi, antara lain meranti, kruing, dan ulin, yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.
Saat melakukan monitoring di sekitar Kilometer 52 - 54 Bukit Soeharto, Prof. Dr. Ir. Marlon Ivanhoe Aipassa, M.Agr., menyebut area terdampak kebakaran diperkirakan hampir dua hektare. Kebakaran tersebut diduga terjadi sekitar 15 Agustus 2026, atau sekitar tiga minggu sebelum monitoring dilakukan.
Di lokasi, tim menemukan vegetasi yang mengering serta sejumlah tanaman rehabilitasi yang terdampak kebakaran. Salah satunya adalah Shorea leprosula atau meranti merah dengan tinggi sekitar 170 sentimeter.
Marlon mengatakan kerusakan tersebut menjadi perhatian karena rehabilitasi hutan membutuhkan investasi dan waktu. Kebakaran tidak hanya dapat merusak tanaman yang telah ditanam, tetapi juga berpotensi menghambat pemulihan ekosistem.
Berdasarkan kondisi lapangan, Marlon menduga kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
"Karena itu, penegakan hukum menjadi bagian penting dalam mencegah pembakaran kawasan hutan kembali terjadi" ujarnya.
Pusrehut Unmul juga telah melakukan patroli selama beberapa hari terakhir. Menurut Marlon, tim turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemantauan dan pemadaman ketika menemukan titik api.
"Kami terus melakukan upaya pencegahan, pemantauan, serta penanganan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia," katanya.
Kondisi kemarau menjadi tantangan tersendiri karena vegetasi yang mengering lebih mudah terbakar. Sementara itu, tanaman rehabilitasi membutuhkan kelembapan yang cukup untuk bertahan dan berkembang.
Marlon berharap hujan segera turun secara merata di kawasan Bukit Soeharto. Meski demikian, Pusrehut tidak ingin mengandalkan hujan dan tetap melakukan pengawasan secara intensif.
"Siang dan malam, kami melakukan patroli untuk memantau kondisi di lapangan sekaligus mencegah adanya ancaman pembakaran oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya.
Penguatan pengawasan di Bukit Soeharto ini juga sejalan dan memperkuat arah kebijakan nasional melalui Instruksi Presiden (Inpres) Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2026 tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.
Pusrehut Unmul berharap koordinasi dengan perusahaan mitra, instansi terkait, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk meningkatkan pengawasan serta mencegah terjadinya Karhutla di kawasan Bukit Soeharto.
Warta Kaltim@2026-Haikal



