PENAJAM PASER UTARA — Sisa sayuran, buah, dan air cucian beras yang biasanya berakhir di tempat sampah kini punya peruntukan baru bagi warga Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara. Bahan-bahan dapur tersebut diolah menjadi pupuk organik cair (POC) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digelar oleh Program Studi Pengelolaan Lingkungan, Jurusan Lingkungan dan Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, pada 19 Agustus 2026. Sasaran kegiatan ini adalah anggota kelompok tani setempat, mengingat desa tersebut berada di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Pengelolaan Lingkungan, Dr. Taufiq Rinda Alkas, S.Si., M.Pd., bersama Penyuluh Pertanian Lapangan Suwono. Keduanya menilai kegiatan ini sebagai jembatan antara ilmu di kampus dan kebutuhan nyata masyarakat. Turut hadir pula Subiyono dari Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), yang menjadikan kegiatan ini bagian dari upaya melibatkan warga lokal dalam pembangunan kawasan IKN.
Dalam pemaparan materi, narasumber Ir. Febrina Zulya, S.T., M.T., IPM. Menjelaskan bahwa POC dinilai sebagai solusi tepat guna karena bahan bakunya mudah didapat di sekitar rumah tangga, mulai dari sisa sayur dan buah hingga air cucian beras serta molase. Menurutnya, proses pembuatan POC berlangsung melalui fermentasi mikroorganisme yang mengubah bahan organik menjadi nutrisi yang mudah diserap tanaman, baik lewat penyemprotan maupun penyiraman ke tanah. Dibandingkan dengan pupuk padat, kata Febrina, POC unggul dalam kecepatan penyerapan hara, kemudahan aplikasi, serta ketersediaan nutrisi yang lebih merata dan berkelanjutan.
Febrina menambahkan bahwa pengelolaan limbah organik semacam ini diharapkan menumbuhkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, menekan dampak negatif sampah, sekaligus mendorong warga menjadi penggerak penggunaan pupuk organik di lingkungannya. Ia juga menggarisbawahi pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan limbah organik, termasuk cara sederhana membuat pupuk cair sendiri.
“Sampah organik bukan sekadar limbah. Dengan pengolahan yang tepat, sampah mampu menjadi sumber daya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sampah organik dapat menjadi persoalan bila dibiarkan menumpuk tanpa penanganan — cepat membusuk, berbau, dan mengundang lalat. Sebaliknya, jika diolah dengan benar, sampah tersebut dapat menekan volume timbunan, mendukung penghijauan, dan menjadi bahan baku POC.
Selama kegiatan berlangsung, warga terlihat antusias mengikuti demonstrasi pembuatan pupuk organik cair. Diskusi berjalan hidup dengan berbagai pertanyaan seputar bahan baku, proses fermentasi, cara kerja tong fermentasi, takaran pemakaian, hingga potensi POC sebagai produk bernilai ekonomi. Antusiasme ini, menurut panitia, menunjukkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan warga sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang lebih bernilai.
Sebagai tindak lanjut, tim PkM menyerahkan sejumlah peralatan kepada warga Suko Mulyo, meliputi tong fermentasi, alat pencacah, dan produk POC. Bantuan ini dimaksudkan agar ilmu yang diberikan tidak berhenti pada sosialisasi, melainkan berlanjut ke praktik dan produksi mandiri oleh masyarakat.
“Kami berharap alat yang diserahkan ini tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi benar-benar digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat. Dengan begitu, kegiatan PkM ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan dan dampak nyata,” kata Isra sebagai ketua pelaksana kegiatan.
Bagi warga Suko Mulyo, kegiatan ini bukan sekadar soal mengelola sampah dapur. Desa yang berada di Kecamatan Sepaku ini tengah mengalami banyak perubahan seiring pembangunan IKN, sehingga peningkatan kapasitas warga menjadi kunci agar mereka bisa ikut mengambil bagian dari berbagai peluang yang muncul di kawasan tersebut. Pengolahan limbah dapur menjadi POC sekaligus memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular — memanfaatkan kembali sumber daya yang masih bernilai, mengurangi sampah, dan membuka peluang tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Melalui program ini, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga membekali warga dengan sarana produksi sebagai modal awal untuk mengembangkan pengolahan limbah dapur secara berkelanjutan. Apa yang tadinya dianggap sampah kini menjadi sumber daya baru bagi warga Suko Mulyo sekaligus langkah kecil menuju kemandirian masyarakat di kawasan penyangga IKN.
Warta Kaltim @2026- Nur Isra, Juliati (Ed)











